Minggu, 05 Mei 2013

Entong Gendut Pemuda Condet Pahlawan Negara


Keramat Djati akhir abad 18. Kesulitan dan himpitan ekonomi yang tak kunjung usai dan terus mendera penduduk yang dilakukan kolonial Belanda di bumi Keramat Jati selama ratusan tahun sesungguhnya membuat para penduduk yang tadinya polos dan lugu mulai berpikir dan mencari solusi untuk keluar dari belenggu penjajahan yang justru terjadi di tanah kelahiran mereka sendiri, lalu ada gejolak patriotisme yang mulai tumbuh di dada para penduduk yang dimunculkan oleh para tokoh spiritual setempat seperti Habib Muhsin Al Attas atau cermin perjuangan rakyat di daerah pesisir seperti Fatahillah

Tokoh-tokoh bersih ini rupanya sanggup merubah kepulan asap perlawanan di hati masyarakat menjadi api yang berkobar-kobar. Dan patriotisme yang sudah kepalang kertakkan geraham itu siap balas menggebuk tirani kolonial.

Dalam waktu singkat, muncul sejumlah putra-putra kampung yang sudah mulai berani unjuk gigi menentang segala kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Belanda. Tentunya dengan resiko kepala akan dipancung atau disiksa di atas panggung, di pelataran gedung gubernemen, atau di muka khalayak ramai. Sepak terjang yang suci di mata hukum penjajah akan berubah menjadi tindakan kriminil, dan sanksi-sanksi yang dijatuhkan penjajah kepada para “pemberontak” bukan sanksi justice melainkan “kejahatan perang” dan intimidasi yang kelak akan berdampak buruk bagi psikologi masyarakat bangsa ini secara berkepanjangan. Padahal rakyat hanya berkata “Ini tanahku”, tapi penjajah malah menjawabnya dengan berteriak, “Memangnya kenapa kalau kami merampok hasil bumi dari tanahmu, kamu mau melawan hah...!?”. Rakyat tundukkan wajah. Rakyat cuma bisa diam seribu bahasa, mungkin mereka bodoh, atau mungkin juga mereka takut dengan todongan senapan marsose yang tiba-tiba bisa menyalak. “Dasar sapi...!” maki penjajah masih kurang puas, seperti yang sering dilontarkan mantri-mantri polisi pada penduduk. Dan gagang senapan marsose itu akhirnya tidak menyalak tapi membuat dahi-dahi warga Condet mengucurkan darah segar.

Keberanian dan tekad mereka dalam menentang segala kebijakan penjajah yang memberatkan masyarakat adalah implementasi yang mengacu pada sebuah perjuangan senior-senior mereka dahulu. Entong Gendut, seorang putra kampung yang gagah berani dan sakti mandraguna tiba-tiba muncul sebagai ikon pahlawan Condet, bahkan Keramat Djati. Seperti sebuah bayangan meriam yang setiap saat bisa meletus. Ia bertubuh agak tambun, ia menyebut dirinya sendiri “Raja Muda”. Sebagian besar tetua Condet cukup banyak mengetahui sejarah Entong Gendut. Ia ada sebagai simbol perlawanan terhadap hegemonial pemerintahan Hindia Belanda. Ia hidup selalu menjadi obor penentangan penjajah, maka selama itu pula semangat perjuangannya tetap hidup di dalam setiap hati masyarakat. Semangat itu tak akan pernah padam walau harus mati berkalang tanah. Sungguh demang-demang dan para centeng pro Belanda memusuhinya karena ia terlalu berani bersikap kurang ajar terhadap kebijakan-kebijakan “bos”nya.

Sama seperti pemuda-pemuda Betawi lain Entong Gendut ke mana-mana selalu memakai celana komprang dan songkok hitam dengan sarung butut yang selalu diselempangkan di dada. Hanya ketika akan bertarung baru sarung butut itu diikatkan di pinggangnya. Anak buah Entong Gendut adalah pemuda-pemuda setempat yang kesemuanya memiliki kepandaian silat tingkat tinggi. Rasa takut penduduk itupun sirna seketika saat mereka melihat bagaimana peluru-peluru marsose itu tak sanggup menembus dada Entong Gendut, malah mereka melihat seulas senyum mengejek di bibir Entong Gendut saat ia merobohkan puluhan marsose dengan tinjunya.

Panggung sejarah mulai merekam aksi Entong Gendut pada tahun 1912, yaitu saat Landrad di Mesteer Cornelis (sekarang pasar Jatinegara) memberlakukan peraturan yang berkaitan dengan keagrariaan yang pada zaman itu lebih dikenal dengan istilah Tuan Tanah. Maka Jaan Ameen Tuan Tanah untuk sub distrik Pasar Rebo yang kerap melayangkan pengaduan ke Landrad perihal tunggakan upeti hasil bumi penduduk Condet dinilai terlalu manja. Pengaduan itu berakibat disitanya rumah-rumah dan tanah-tanah penduduk Condet, bahkan tak sedikit rumah penduduk yang dibakar. Aksi sewenang-wenang ini semakin merajalela. Penduduk mulai marah, dan puncak kekecewaan penduduk terjadi pada tahun 1914. Gubernemen menjatuhkan sanski pada seorang penduduk Condet untuk membayar denda sejumlah 7.20 Gulden atau kalau tidak pihak Gubernemen akan menyita semua miliknya. Penduduk Condet bertambah marah, konsentrasi massa mulai terjadi dan semakin meluas pada hari eksekusi. Penduduk terhukum itu menyerah, ia tidak sanggup membayar denda. Semua harta bendanya disita oleh Gubernemen dan terlambat untuk bisa diselamatkan. Selanjutnya satu persatu para tokoh reformasi dan para penduduk yang mencoba memperjuangkan hak-haknya ditangkapi dan disiksa para marsose. Entah sudah berapa jumlah penduduk yang ditangkapi. Namun, tindakan penyiksaan itu terus berlanjut. Salah satu tokoh yang pernah disiksa Belanda adalah bang Latip, seorang warga Condet yang tergolong nekat. Serdadu Belanda merendamnya di rawa-rawa Asem Baris (sekarang pool taksi Gamya) selama sehari semalam tanpa diberi makan dan minum. Entong Gendut tahu itu, lehernya menggelembung, ia terlihat begitu marah. Ia mencoba bertahan pada taktik perjuangannya, tapi kali ini sudah tak lagi dapat berpangku tangan menyaksikan semua itu. jiwanya bergejolak dan kesabarannya sudah benar-benar habis.

Malamnya, di tengah suasana yang masih panas Entong Gendut membubarkan pertunjukan topeng yang diadakan Jaan Ameen di landhuis Tanjung Oost (sekarang Gedong tinggi). Tindakan Entong Gendut membuat Jaan Ameen tersinggung. Ia mengadukannya pada pihak Gubernemen. Pengaduan tersebut langsung ditanggapi pihak pejabat landrad Meester Cornelis yang langsung memanggil Entong Gendut untuk datang menghadap, tapi Entong Gendut tidak mau. Dipimpin oleh Demang dan mantri polisi, sejumlah marsose dikerahkan untuk “memberi pelajaran” pada pria berjuluk Raja Muda ini. 

Di rumahnya, di Batu Ampar, Entong Gendut duduk santai menyambut utusan gubernemen itu. Ada bang Awab dan bang Maliki, karib Entong Gendut dengan puluhan pemuda yang telah bersiap dengan hunusan goloknya. Utusan Gubernemen bertanya pada Entong Gendut, mengapa ia berani membubarkan pertunjukan topeng yang sedang berlangsung. “Demi agama yang saya anut” katanya singkat tapi lugas. “Di sana marak praktek perjudian”, sambungnya geram. Sesaat kemudian terjadi perdebatan. Entong Gendut menyalahkan Gubernemen yang terlalu memihak pada kepentingan Belanda dan mengecam kebijakan-kebijakan mereka yang banyak merugikan penduduk. Utusan Gubernemen tidak siap untuk disudutkan, mereka murka. Suasana semakin memanas, Entong Gendut berteriak, “Aya gedruk ni tanah bakal jadi laut...!”. Namun mereka tidak berani bertindak konyol. Entong Gendut dan pasukan berani matinya itu berada di atas angin.    
Setelah peristiwa itu wajah kepemerintahan kolonial Belanda pun mengarah ke Condet. Wajah-wajah penguasa itu begitu suram, sesuram masa depan kekuasaan mereka yang mulai terancam akibat serangkaian pemberontakan yang dilakukan Entong Gendut. Lalu tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sepucuk surat dari Entong Gendut, di dalam suratnya, gantian Entong Gendut yang memanggil pejabat Gubernemen untuk menghadap dirinya, alias Raja muda, alias Entong Gendut untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang mereka lakukan pada penduduk Condet. Jelas institusi Gubernemen yang begitu agung merasa diinjak-injak. Belanda tidak tinggal diam, mereka mempersiapkan sejumlah pasukan untuk sebuah operasi. Tentu Entong Gendut sebagai Target Operasi mereka, sementara pasukannya akan dilibas habis.       

Operasi Penangkapan Entong Gendut Dkk.
Masih di bulan April 1916, selama dua hari setelah Entong Gendut mengirimkan suratnya ke Gubernemen, militer Belanda mengerahkan serdadunya untuk operasi penangkapan Entong Gendut. Sesungguhnya penentangan yang dilakukan penduduk terhadap segala kebijakan Belanda telah membuat pemerintah Hindia Belanda murka. Mereka paham betul karakter inlander. Selama ini inlander Condet begitu patuh terhadap segala kebijakan yang telah diatur pemerintah Belanda, tapi sekarang kepatuhan itu telah berubah menjadi pembangkangan. Pihak Belanda curiga bahwa perubahan itu tidak muncul dengan sendirinya, pasti ada yang sengaja merubahnya. Tujuannya untuk penghapusan devisa pemerintah Belanda. Dan Entong Gendut adalah biang keladi dari semuanya. Para mantri polisi dan Wedana yang langsung memimpin operasi penangkapan Entong Gendut. Mereka para marsose itu mengepung rumah Entong Gendut, Wedana berteriak lantang memerintahkan Entong Gendut menyerah. Moncong-moncong senapan sudah mengarah ke sasaran, hanya tinggal menunggu aba-aba. Tapi konsentrasi massa yang terdiri dari para pemuda Condet berilmu tinggi telah bersiap di hadapan mereka. Di dalam rumah, Entong Gendut malah bersembahyang dengan tenangnya, suara-suara teriakan wedana itu sama sekali tak mengganggu konsentrasi ibadah si Raja Muda. Sepertinya ia sengaja membiarkan pasukan Belanda berlama-lama menunggu.

Setelah sembahyang Entong Gendut keluar. Di tangannya ia menggenggam tombak ditutupi kain putih, goloknya yang setia itu nampak terselip di pinggang. Di tangan satunya lagi ada bendera merah dengan gambar bulan sabit berwarna putih. Sorot matanya begitu berani, menatap tajam ke arah wedana dan marsose-marsose yang mulai diliputi rasa takut. Ia membalas teriakan wedana dengan mengatakan bahwa dirinya tidak akan tunduk pada siapapun termasuk Belanda. “Sabilullah..., sabilullah...!” pasukannya mengamini. Pertempuran tak dapat dihindarkan. Tapi kemenangan ada di pihak Entong Gendut. Marsose-marsose banyak yang mati, wedana pun menjadi tawanan.

Wafatnya Entong Gendut
Dan bukan main marahnya Belanda ketika mengetahui wedana telah ditawan dan marsose-marsose yang diandalkan itu harus menemui kematian begitu rupa ditangan penduduk yang hanya mengandalkan tangan kosong atau golok-golok jelek, pendek dan sudah berkarat. Bala bantuan berkekuatan besar segera didatangkan. Hari itu Belanda benar-benar mengerahkan kekuatan penuh untuk melumpuhkan Entong Gendut. Kali ini mereka menerapkan siasat baru. Dan Entong Gendut sengaja telah dijebak. Jawara Condet sakti itu tidak menyadari siasat baru operasi penangkapan yang diterapkan Belanda. Di Balekambang, di tepi anak sungai Ciliwung, insiden berdarah paling dahsyat di Condet itupun terjadi.

Maka, sepandai pandai tupai melompat pasti jatuh juga. Setiap ada kekuatan pasti ada kelemahan. Dua kalimat ini berkaitan dengan Entong Gendut, mengandung makna pasrah menerima kekalahan atas kebatilan walau kadang sedang berdiri di posisi yang benar. Tega-teganya para spionase busuk dari kalangan pribumi itu membocorkan informasi gerakan bawah tanah yang sedang diprakarsai warga Condet demi kemerdekaan daerah dan bangsanya sendiri. Padahal Belanda hanya mengupahnya dengan uang yang jumlahnya tak seberapa. Lewat sebuah insiden di anak sungai Ciliwung, kampung Balekambang, para marsose yang telah menemukan kelemahan Entong Gendut itupun mengakhiri sepak terjang pahlawan Condet untuk selama-lamanya.

Semula para marsose sempat dipukul mundur, mereka berlarian kocar kacir menyeberangi anak sungai Ciliwung. Entong Gendut berusaha mengejar, tapi kawan-kawan Entong Gendut memperingati agar tidak ikut menyeberangi sungai. Emosi sudah naik ke ubun-ubun, Entong Gendut tidak lagi menggubris peringatan kawan-kawannya. Ia tetap berenang menyeberangi sungai mengejar para marsose. Dan memang itu rencana yang diinginkan Belanda, yaitu membunuh Entong Gendut saat berada di sungai. Rahasia kelemahan Entong Gendut yang telah diketahui pihak Belanda itu adalah bocoran informasi dari pengkhianat bangsa kepada pihak Belanda bahwa Entong Gendut hanya bisa dibunuh saat berada di dalam sungai. Hari itu keberuntungan tidak sedang berpihak pada Entong Gendut. Dan pada hari itu Entong Gendut harus tewas diberondong oleh peluru-peluru laknat marsose.

Berita tewasnya Entong Gendut dengan cepat tersiar di seluruh kampung. Seluruh warga Kramat Jati, khususnya kampung Condet berkabung atas wafatnya pahlawan kebanggaan mereka. Suasana duka mendalam menyelimuti Condet. Sebaliknya, pihak Belanda dan gubernemen bersorak sorai kegirangan karena telah membunuh provokator yang selama ini sulit untuk ditangkap. Di landrad-landrad, dentingan “toast” gelas para pejabat militer Belanda mewarnai suasana perayaan kesuksesan penumpasan Entong Gendut. Akan tetapi, di luar sana sebuah peristiwa fenomenal telah terjadi. Ketika jenazah Entong Gendut yang terbungkus tikar diusung warga dengan pengawalan ketat para marsose, lalu jenazah itu diletakkan di suatu tempat. Ada beberapa versi yang menjelaskan tempat tersebut. Sebuah sumber mengatakan, tempat itu adalah rumah Entong Gendut. Sumber lain menyebutkan tempat itu semacam hospital atau klinik. Namun terlepas dari berbagai versi itu, jenazah Entong Gendut tiba-tiba hilang secara misterius. Para marsose berikut penduduk yang ikut menyaksikan kejadian itu terhenyak seolah tak percaya apa yang mereka lihat. Bukan itu saja, mereka semua berusaha mencari ke mana jenazah penuh lumuran darah itu. Tapi yang dicari tidak juga ditemukan. Jenazah Entong Gendut raib bagai ditelan bumi. Akhirnya pencarian pun dinyatakan selesai oleh pihak Belanda. Setelah itu aktifitas kembali berjalan seperti biasa, denyut pemberontakan tak lagi pernah terdengar di kampung Condet, yaitu penduduk yang berada dalam kungkungan intimidasi dengan terpaksa kembali menyetor upeti penghasilan pada pihak Belanda.

Setelah Entong Gendut menghilang, Belanda semakin gencar melancarkan aksinya menangkapi para penduduk yang pernah mendukung Entong Gendut. Para marsose petantang-petenteng keluar masuk kampung, menggeledah rumah-rumah yang menurut penjajah termasuk daftar buronan pemerintah. Penangkapan demi penangkapan berjalan mulus karena sudah tidak ada lagi sosok hero yang membela penduduk. Rasa takut pun selalu melanda. Suasana yang semula tenang seketika berubah mencekam. Hampir tiap hari ada saja warga setempat yang ditangkap. Mungkin kita akan terilustrasi situasi waktu itu lewat sebuah pantun warga Condet yang cukup populer.


Ular kadut mati di kobak
Burung betet makanin laron
Entong Gendut mati ditembak
Orang Condet pada buron

Seiring waktu berjalan, baik warga maupun pihak Belanda telah melupakan peristiwa hilangnya Entong Gendut. Belanda merasa yakin bahwa Entong Gendut benar-benar telah tewas. Selang beberapa tahun kemudian, banyak orang yang melihat Entong Gendut berada di daerah Purwakarta, Jawa Barat dalam kondisi segar bugar.

Entong Gendut dengan segala keberaniannya menentang kesewenang-wenangan Belanda bukan hanya dianggap sebagai pahlawan kampung, tapi sesungguhnya dia lebih pantas disebut sebagai pahlawan bangsa dan negara. Jasanya akan selalu dikenang warga Condet, jiwa perjuangannya akan selalu menyala di hati masyarakat. Mati satu Entong Gendut akan tumbuh seribu Entong Gendut. Hilang kesaktian dari satu orang akan tumbuh kesaktian dari seribu orang. Selamat jalan Entong Gendut, semoga arwahmu diterima di sisi Tuhan. 

0 komentar:

Posting Komentar