Pitung, Sejarah Pahlawan Betawi Yang Dihitamkan

 


Di bumi Sunda Kelapa nama Pitoeng atau Pitung merupakan nama dari sosok yang tak akan pernah dilupakan warga Betawi. Pitung dikenal sebagai kriminal sekaligus pahlawan. Pitung juga telah diingat sejarah selama ratusan tahun. Pitung seperti yang diceritakan para sejarawan lokal adalah Robin Hood Betawi yang tidak memiliki kerjaan kecuali merampok harta orang-orang kaya, yaitu mereka para lintah darat, kumpeni, dan orang-orang Cina yang bersekongkol dengan Belanda. Kemudian hasil rampokan tersebut oleh Pitung dibagi-bagikan kepada penduduk kampung yang miskin.


Diceritakan oleh banyak sejarawan Netherland, bahwa Pitung melakukan aksi kriminalnya tidak sendirian. Ada sejumlah sahabat yang setia disampingnya, sebut saja Ji’ih dan Somad. Aksi kriminal Pitung dan kawan-kawannya dari hari ke hari semakin berani. Dan akibatnya, Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan secara resmi penangkapan Pitung, bandit yang menurut kubu Wihelmina paling berbahaya di Betawi.

Sederet cerita yang banyak beredar di luaran tentang Pitung dan kawan-kawannya tidak semuanya benar. Justru cerita-cerita itu banyak mengandung kesan tendensiusme dan sentimen berlebihan. Pitung bukan seperti yang diceritakan para sejarawan Hindia Belanda yang banyak menyunat cerita demi kepentingan hegemonial penjajah. Para sejarawan berambut pirang itu akan menulis cerita sesuai kebijakan Netherland atau kalau tidak, mereka akan berhadapan dengan kemurkaan Raja Willem atau putrinya, Wihelmina.

Pitung itu asli anak Betawi. Lahir sekitar tahun 1860 di Kampung Rawa Belong. Nama aslinya bukan Pitung, tapi Soleh. Ada juga yang bilang Solehun. Dari kecil Solehun sudah terlihat cerdas. Pitung juga pintar dalam berbagai hal. Ayahnya, Bang Piung dan ibunya, Mpok Pinah, melepas Solehun saat usia putranya 8 tahun untuk ‘nyantri’ di tempat Ustadz Naipin, seorang tokoh masyarakat setempat yang banyak mengerti urusan agama.

Ustadz Naipin bukan saja sosok sederhana yang banyak mengerti tentang agama, tapi dikenal juga sebagai tokoh yang menguasai ilmu silat. Selain itu, guru ngaji ini juga dikenal memiliki ilmu kedigjayaan pamungkas, ilmu yang paling diburu jawara Betawi papan atas saat itu. Belasan orang anak menjadi santri di tempatnya, termasuk Solehun (Pitung), Dji’ih, Mamat, dan Dulrahman.

Untuk menghidupi keluarga dan belasan santrinya, Ustadz Naipin tidak pernah kesulitan karena ia adalah salah satu bandar kambing cukup tersohor di Rawa Belong. Kambingnya berjumlah puluhan ekor. Di waktu senggang, Solehun dan teman-temannya membantu mencari rumput dan dedaunan untuk membersihkan kandang dan memberi makan kambing.

Setiap hari, tidak sedikit pembeli mendatangi rumah Ustadz Naipin untuk membeli kambing. Meski  beberapa hari sekali Solehun juga membantu menjualkan kambing-kambing tersebut ke pasar-pasar di beberapa tempat di Betawi seperti di pasar Rawabelong, Pekojan, dan Tenabang. Selain itu, menyembelih kambing juga merupakan salah satu rutinitas Solehun, karena banyak juga para pelanggan yang membeli daging kambing secara kiloan.

Aktifitas Solehun dalam membantu penjualan kambing Ustadz Naipin membuat Solehun mulai banyak berinteraksi dengan masyarakat. Prilaku Solehun yang santun dan ringan tangan untuk membantu banyak orang rupanya banyak disuka khalayak. Dari situ pula Solehun mulai dikenal penduduk kampung untuk mendengar keluhan mereka atas tindakan kesewenang-wenangan kolonial terhadap penduduk. Mereka juga bercerita bagaimana para centeng-centeng tuan tanah secara keji melakukan tindak pemerasan yang dilakukan secara membabi buta.

Para tuan tanah sengaja memberi pinjaman mudah kepada penduduk dengan bunga yang berkali lipat. Borekhnya hewan, tanah, hasil bumi, atau bahkan rumah. Para tuan tanah baik dari kalangan pribumi maupun orang-orang Cina tak segan-segan menyita borekh jika penduduk kampung tak mampu membayar. Tidak ada satupun warga kampung yang berani melawan. Centeng-centeng tuan tanah terkenal ringan tangan. Dan mereka kebal hukum karena pemerintah kolonial membekingi aksi para tuan tanah.

Cerita-cerita itu membuat darah muda Solehun mendidih. Solehun yang saat itu telah berusia sekitar 19 tahun tidak bisa lagi berpangku tangan dan mulai berpikir untuk melakukan sesuatu. Bersama kawan-kawan santrinya Solehun bertekad membantu penderitaan penduduk kampung. Ilmu silat yang dimiliki Solehun dan kawan-kawan yang cukup mumpuni perolehan dari Ustadz Naipin akan menjadi modal memberantas kelaliman para penindas rakyat.

Solehun, Dji’ih dan beberapa santri Ustadz Naipin yang lain mulai melakukan sejumlah aksi heroik. Mereka bulatkan tekad membantu rakyat. Mereka nekat menghadang marsose, opas, dan centeng-centeng kaki tangan tuan tanah yang selalu menggunakan kekuatan tangan besi pada para penduduk.

Di tengah jalan kampung atau di jalan setapak kebon-kebon yang sepi, Solehun cs menghadang kompolotan marsose, opas, dan centeng yang langsung petantang petenteng doak-doakan (teriak-teriak) sambil mengacung-acungkan golok ke arah Solehun dan teman-temannya.

Namun layaknya seorang santri yang santun, Solehun meminta mereka untuk mengurungkan niat untuk menindas rakyat kecil dan menyarankan kembali ke posnya. Solehun secara baik-baik juga akan meminta seluruh barang-barang berharga dan uang yang sempat dirampas oleh mereka dikembalikan pada pemiliknya. Seringkali permintaan Solehun cs itu berujung dengan pertarungan hebat antara kedua belah pihak dengan kekalahan di pihak musuh.

Komplotan kaki tangan tuan tanah terkapar tak berdaya ‘digaplokin’ kelompok Solehun, sementara. barang-barang berharga dan uang milik orang kampung yang sempat dirampas centeng dan opas dikembalikan Solehun kepada pemiliknya.

“Maapin aye, ude jatohin tangan ame abang, kirim salam ame Heyna, bilang dari Pitung,” begitu kata Solehun tiap kali usai ‘nabokin’ centeng dan opas tangan kaki kolonial itu.

Pitung yang tak lain adalah Solehun mulai mempopulerkan dirinya dengan nama Pitung. Nama baru itu sengaja ia ciptakan untuk melindungi asal-usulnya, keluarganya, dan sekaligus mengelabui Belanda serta para centeng dan jawara bayaran yang tak pernah berhenti mencarinya hingga ke pelosok kampung.  

Dalam keadaan babak belur mereka kembali pada tuan tanah majikannya itu dan melaporkan jika mereka telah dicegat di tengah jalan oleh gerombolan pemuda kampung berkepandaian silat tinggi. Barang-barang berharga yang telah mereka rampas dari penduduk kampung itu ikut raib dirampok. 

Solehun memang punya nyali. Ia tak pernah gentar mengambil balik harta rampasan penduduk langsung di kediaman si tuan tanah meskipun rumah itu dipenuhi para centeng dan jawara papan atas. Namun dibalik semua itu, dalam beberapa bulan terakhir, aksi heroik kelompok santri Ustad Naipin rupanya telah menggegerkan dunia persilatan Betawi. Diikuti oleh penduduk kampung yang mulai berani mengibarkan bendera perlawanan terhadap kolonial dan kaki tangan mereka. Sayangnya, nama Pitung tidak sebagus di kampung, karena pemerintah kolonial terlanjur mengenal citra pahlawan rakyat kecil itu sebagai perampok kelas kampung, sesuai laporan yang diterima pemerintah Hindia Belanda dari kaki tangannya selama ini.

Setumpuk aduan kelakuan Pitung sudah terlalu banyak di meja Schout Heyne. Semua laporan menyudutkan Pitung. Mulai dari perampokan, pengeroyokan, kerusuhan, pemberontakan, hingga pembunuhan. Hanya dua hal yang harus dilakukan Heyne. Menangkap Pitung hidup-hidup atau membuatnya mati dengan peluru.

Meski Heyna telah mengerahkan sebagian besar kekuatan personil opas dan militer di Batavia, namun upaya penangkapan Pitung memakan waktu sangat lama, bahkan bertahun-tahun, hingga pada suatu ketika dengan segala kelicikan kompeni Pitung berhasil ditangkap. Pitung tidak sendiri, ada Dji’ih juga yang ikut tertangkap.

Heyna mengira telah berhasil membekuk aksi Pitung cs. Heyna dengan yakin mulai mempersiapkan proses pengadilan dan hukuman bagi Pitung dan Dji’ih. Mungkin hukumannya adalah bui seumur hidup, atau mungkin juga hukuman gantung. Pitung tahu persis apa yang bakal menimpanya. Tapi Pitung tenang, karena esok harinya ia dan Dji’ih berhasil melarikan diri dari bui.

Heyna pun meningkatkan pencarian Pitung cs. Ribuan marsose di seluruh distrik Batavia diterjunkan, sementara ratusan jawara berkepandaian tinggi juga disebar hingga ke wilayah Banten untuk meringkus Pitung. Sekitar 200 Gulden akan diberikan pemerintah kolonial kepada siapa saja yang memberikan informasi keberadaan Pitung.

Setiap kali ada laporan keberadaan Pitung dari warga pengkhianat bangsa, Heyna terpaksa kerap memberikan sejumlah uang sebagai upah, tapi Heyna selalu terkecoh, karena Pitung cs sudah lebih dulu menghilang sebelum Heyna dan pasukannya datang. Kondisi ini terus berlanjut selama bertahun-tahun. Konon, proyek pencarian Pitung telah menguras dana pemerintah kolonial hingga ratusan juta Gulden.

Memasuki tahun 1892 kehidupan Pitung mulai berubah setelah sahabat karibnya, Dji’ih berhasil ditangkap Heyna dan belum diketahui nasibnya. Kondisi kejiwaan Pitung yang shock usai kehilangan Dji’ih semakin diperparah dengan berita kematian Aisyah, istri yang beberapa bulan baru dinikahinya akibat perlakuan tak bermoral anak buah Heyna. 

Sekitar tahun 1893, bersama ratusan marsose, opas, dan jawara bayaran Heyna mengepung Pitung yang tengah sendirian di hutan karet yang terletak tak jauh dari Kampung Bali Matraman. Heyna berhasil membunuh Pitung dengan belasan peluru. Pitung pun rebah ke tanah diiringi dengan kalimat Takbir dan Tauhid yang menjadi kalimat terakhir di penghujung nafasnya. 

Jenazah Pitung dimakamkan di sekitar Kampung Rawa Belong, (sekarang daerah Kebayoran Lama). Kematian Pitung membuat seluruh rakyat Betawi menangis pilu. Pahlawan rakyat itu telah wafat sebab difitnah hanya untuk membela rakyat dan bangsa dari kezaliman tuan tanah dan penindasan pemerintah Hindia Belanda.

You May Also Like

0 comments