KETIKA NASIB BANGSA INDONESIA PERNAH BERADA DI TANGAN PRIA INI

 

pejuang naskah pengakuan kemerdekaan indonesia dari mesir

Proklamasi 17 Agusuts 1945 itu sebagai bukti lahirnya sebuah Negara baru yang ingin mandiri namun pemerintah Belanda bertolak belakang menyikapinya. Di hadapan dunia internasional Belanda meyakini bahwa Indonesia adalah koloninya yang dicaplok ilegal oleh Jepang. Selang sebulan setelah proklamasi kemerdekaan RI, Belanda yang terlanjur bucin pada Indonesia dan telah dikalahkan Jepang tiba-tiba datang lagi bersama sekutu dengan alutsista serba baru dan siap mengadu jiwa agar Indonesia bisa kembali ke pangkuannya, hingga antara tahun 1945 hingga 1949, rakyat Indonesia dari berbagai elemen tidak berhenti melawan gempuran tentara Belanda. Peperangan demi peperangan meletus di berbagai daerah. Semua tokoh dan rakyat yang melakukan perjuangan diburu. Tidak sedikit dari para tokoh dan pejuang yang tertangkap. Maka pada 16 Maret 1947, sejumlah tokoh RI bertolak menuju Mesir untuk mencari dukungan dan memperoleh pengakuan.

Mereka yang berangkat adalah : Menteri Luar Negeri H. Agus Salim, Sekjen Kemenag H.M. Rasjidi, Diplomat Deplu Nazir Datuk Pamoentjak, dan Menteri Muda Penerangan A.R.Baswedan. Sebagai ketua rombongan adalah H Agus Salim. Setelah sebelumnya transit di Mumbai, India, rombongan delegasi akhirnya tiba di Mesir pada 10 April 1947 lalu Perdana Menteri Mesir, Mahmud Fahmi Nokrashi Pasha menandatangani dokumen Perjanjian Persahabatan dan Pengakuan Kedaulatan RI secara de jure pada 10 Juni 1947, yang juga menjadi tonggak sejarah bermulanya hubungan persahabatan dua Negara yang terjalin pertama kali antara Indonesia dan Mesir.

Situasi genting di Indonesia membuat para tokoh delegasi Indonesia di Mesir harus mengatur siasat dan berbagi tugas untuk membawa surat pengakuan Mesir yang teramat penting itu kembali ke tanah air agar dapat segera diserahkan kepada Presiden Soekarno yang tengah menunggu di Yogyakarta. Untuk menghindari kecurigaan berlebih dari pihak Belanda, butuh seorang martir cerdas yang kembali ke Indonesia, sisanya tetap di luar negeri untuk menggalang dukungan internasional. Saat itu tanpa banyak pikir panjang, AR Baswedan bersedia membawa pulang surat tersebut kembali ke tanah air. Meskipun perjalanan tersebut membahayakan nyawa, meskipun ia harus pulang sendirian, dan meskipun kepulangannya tanpa membawa perbekalan apa-apa. Tapi bagi AR Baswedan surat pengakuan itu jauh lebih berharga dari sekedar raga dan nyawanya. Ada harapan dan nasib rakyat Indonesia di sana. Bekal pulangnya tidak cukup dan bisa membuatnya kelaparan sepanjang perjalanan tapi ia yakin Tuhan pasti akan menolongnya. Tekad kuatnya menggambarkan ia rela pulang hanya tinggal nama. "Baswedan, bagi saya tidaklah penting apakah Saudara sampai di Tanah Air atau tidak, yang penting naskah ini harus sampai di Indonesia dengan selamat.", ucap H.Agus Salim pada AR Baswedan. Kalimatnya singkat tapi meninggalkan makna sangat dalam.

Pada 18 Juni 1947, AR Baswedan melakukan penerbangan sendirian menuju Indonesia tapi dengan rute estafet yang panjang. Di setiap negara yang disinggahi ia harus melakukan penggalangan dana agar dapat membeli tiket pesawat untuk kelanjutan perjalanannya, dimulai dari Mesir, Bahrain, Pakistan, India, Myanmar, dan Singapura. Namun di Singapura perjalanannya harus tertahan cukup lama karena ia benar-benar kehabisan uang. Beruntung ia bertemu warga Singapura keturunan Yaman yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Untuk makan, tidur, dan kebutuhan sehari-hari AR Baswedan dibantu kerabatnya, Awab Ba’ubeid dan istrinya, Siti Aisyah Basyarahil. Dokumen titipan pun disembunyikan di dalam sebuah brankas di rumah keluarga tersebut. Sementara untuk dana pembelian tiket pesawat KLM dan proses kepulangannya ke Indonesia, keturunan Yaman yang lain, Ibrahim Assegaf dan Ali Thalib Yamani berjibaku turut membantu.

Pada 14 Juni 1947, menjelang agresi skala besar militer Belanda. Pesawat KLM yang membawa AR Baswedan lepas landas dari Singapura dan mendarat di Bandara Kemayoran, Jakarta di hari yang sama. Situasi Bandara benar-benar mencekam. Seluruh area dipenuhi oleh tentara Belanda bersenjata lengkap. Rupanya perjalanan tim delegasi yang sukses memperoleh dokumen pengakuan dari Mesir telah diketahui intelejen Belanda. Sesaat setelah pesawat mendarat, seluruh penumpang harus melewati pemeriksaan super ketat. AR Baswedan kuatir tapi berupaya tenang agar otaknya tetap bekerja. Ia pun segera melipat dokumen tersebut dan dimasukkan ke dalam kaus kakinya. Lalu satu per satu penumpang digeledah dengan sangat teliti, termasuk tas dan semua barang bawaan. Saat dirinya giliran digeledah dan moncong senapan serbu tepat berada di depan dahinya, AR Baswedan pasrah, tapi doa dan zikir dalam hati tidak pernah berhenti. Dan luar biasanya, ternyata tentara Belanda yang melakukan pemeriksaan tidak mengenali AR Baswedan sehingga ia bisa lolos dari pemeriksaan ketat yang mendebarkan itu. Dari Bandara AR Baswedan bergerak menuju kediaman Perdana Menteri Amir Syarifuddin. Ia beristirahat dari perjalanan panjang yang mengguncang adrenalin.

Untuk menghindari patroli tentara Belanda, aktifitas dilakukan AR Baswedan tanpa mencolok. Di Subuh buta tanggal 19 Juli 1947, ia bersama Perdana Menteri Amir Syarifuddin bertolak menuju Yogyakarta untuk menyerahkan dokumen pengakuan tersebut kepada Bung Karno. Setibanya di Yogyakarta ia langsung menghadiri rapat kabinet dan menyerahkan dokumen tersebut ke tangan Bung Karno dalam keadaan segel yang masih utuh.

Segera setelah menerima dokumen tersebut Presiden Soekarno menginstruksikan Kementrian Penerangan bersama Radio Republik Indonesia (RRI) untuk menyiarkan pengakuan kedaulatan pertama Indonesia ke seluruh dunia. Efeknya, banjir dukungan dari Negara-negara Timur Tengah. Berkat bukti dokumen itu juga, sidang PBB yang digelar mulai 31 Juli hingga 14 Agustus 1947 di New York berhasil membuka mata dunia dan memerintahkan Belanda untuk menghentikan agresi militernya di Indonesia.  

Sebuah dokumen dan aksi heroik AR Baswedan yang membuat fakta sebuah perjuangan mulai dilirik dunia. Sejarah ini begitu berarti bagi sebuah negeri bernama Indonesia, tapi ketika informasi sepenting ini tidak diketahui luas rakyat Indonesia, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, AR Baswedan menganggap pengorbanannya tidak perlu dibesar-besarkan, atau kisahnya memang sengaja disembunyikan.  



Ibnu Umar Junior

Writter, Journalist, Editor, Script Writter, Researcher, Blogger, Novelist, Batavia Historian, Humanist, Content Creator, and Enterpreneur

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama