Bang Pi'i, Jawara Beken Betawi Yang Jadi Menteri (7-Tamat)

 

Letkol Pi'i sempat dituduh PKI

Di awal Oktober 1945, tentara sekutu merangsek ke pusat kota lalu menduduki kawasan Senen. Mengetahui hal itu, meski ia tengah menderita sakit Bang Pi'i spontan langsung bisa bergerak. Di bawah bendera OKI, Bang Pi'i bersama ribuan anak buahnya yang tersebar di seantero Batavia, melawan agresi kumpeni dengan gagah berani. Mereka membagi lokasi penyerangan. Sebagian mengepung stasiun Senen, yang saat itu telah menjadi pusat konsentrasi tentara sekutu. Bang Pi'i dan anak buahnya tidak memiliki senjata kecuali golok dan bambu runcing, tapi mereka tidak sedikitpun gentar. Dalam setiap aksi penyerbuan Bang Pi'i memang selalu berada di garis paling depan. Muntahan pelor berhamburan ke arah Bang Pi'i, tapi ia tidak peduli dan terus merangsek maju. Tentara sekutu kebingungan. Hanya dalam hitungan jam Stasiun Senen berhasil direbut kembali oleh Bang Pi'i dan anak buahnya.  

Aksi penyerbuan Bang Pi'i dan anak buahnya merebut Stasiun Senen sukses gemilang. Namun keberhasilan itu membuat tentara sekutu murka. Berkekuatan penuh, tentara sekutu membalas lancarkan serangan balik membabibuta ke kawasan Senen. Bang Pi'i yang kondisi sakitnya semakin parah akhirnya kembali memimpin pertempuran. Selama dua hari pertempuran sengit berlangsung. Karena sakit, Bang Pi'i terkepung dan tersudut lalu akhirnya berhasil ditawan. Tubuh dan kedua tangannya diikat tali oleh tentara sekutu lalu dibawa menggunakan mobil. Setelah sampai di lokasi tujuan, tentara sekutu terkejut bukan main. Bang Pi'i ternyata telah melarikan diri. Bang Pi'i berhasil kembali ke kelompoknya untuk menyusun kekuatan guna membalas serangan tentara sekutu. Namun belum lagi penyerangan dilakukan pemerintah Indonesia memerintahkan konsentrasi perjuangan rakyat termasuk kelompok Bang Pi'i untuk dipindahkan sementara ke Karawang.

Bang Pi'i berkesempatan bersekolah di SSKAD (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat), dan lulus pada tahun 1958 dengan pangkat Letnan Kolonel. Sebagai militer, Bang Pi'i tidak banyak ikut campur tentang kondisi politik. Tujuannya satu, yaitu hanya mengabdi pada pemimpin sebagai refleksi mengabdi pada bangsa dan negara. Soekarno banyak mendengar sepak terjang Bang Pi'i dalam mengamankan wilayah Djakarta. Nampaknya Sokarnoe tertarik, lalu memerintahkan bang Pi'i agar sering mengawalnya jika sedang bepergian. Hal itu diamini Bang Pi'i. Selanjutnya dalam kesempatan lain, Soekarne juga sempat mengutarakan akan merekrut Bang Pi'i sebagai Tjakrabirawa dan mengangkatnya sebagai Komandan. Tapi Bang Pi'i menolaknya.

Pada tanggal 10 hingga 13 Januari 1966, Mahasiswa turun melakukan unjuk rasa setelah berkali-kali tuntutannya terkait Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) tidak digubris pemerintahan Soekarno. Selama hampir 4 hari unjuk rasa mahasiswa secara besar-besaran terus dilakukan. Situasi aksi mahasiswa semakin memanas. Kondisi ketegangan semakin memuncak, namun Bang Pi'i yang bertugas mengamankan ibukota berhasil memadamkan ketegangan sekaligus membubarkan mahasiswa.

Jasa bang Pi'i terhadap agama dan bangsa banyak mendapat apresiasi. Untuk sebuah negara yang baru lahir, dibutuhkan cukup banyak sosok atau tokoh untuk mengisi berbagai jabatan. Sementara kemerdekaan yang diperoleh dari perjuangan berbagai elemen anak bangsa membuat mereka yang gelap mata terobsesi jabatan harus menyingkirkan teman seperjuangan untuk mencapai tujuan.

Pada 21 Februari 1966, setelah peristiwa Gerakan 30 September PKI, Soekarno yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden RI mengumumkan pembentukan mendadak Kabinet Dwikora II 100 Menteri. Bang Pi'i yang meski saat itu baru berpangkat Letnan Kolonel ikut terpilih menjadi Menteri Negara DPPUPK (Diperbantukan Pada Presiden Urusan Pengamanan Khusus). Namun belum lama menjabat, pada tanggal 27 Maret 1966 Soekarno mereshuffle kabinetnya kembali menjadi kabinet Dwikora III. Bang Pi'i adalah salah satu nama yang terkena reshuffle. Selanjutnya Kabinet Dwikora III dibubarkan lagi karena roda pemerintahan sudah berganti, dari Orde Lama, ke Orde Baru. Setelah itu Bang Pi'i dituduh terafiliasi komunisme hingga membuatnya ditahan, tapi tak beberapa lama ia dibebaskan, karena tidak ditemukannya bukti.

Beberapa tahun setelah peristiwa penahanannya, Bang Pi'i sempat ditawari oleh pemerintah untuk kembali meneruskan karirnya sebagai Angkatan Darat. Namun tawaran itu ditolaknya secara halus. Ia beralasan akan menghabiskan masa tuanya di rumah bersama keluarga. Bang Pi'i wafat karena sakit pada 9 September 1982 di rumahnya.

Jawara Betawi Letnal Kolonel Imam Syafi'i bin Mughni dimakamkan secara terhormat di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan dengan serangkaian upacara militer.



You May Also Like

1 comments

  1. Masya Allah, ane baru denger cerita Bang Pi'i sampe detil bgn. Semoga Alm ditempatin pd maqom terbaik di sisi Allah swt dan keluarga diberi keberkahan buat lanjutin perjuangan beliau, aamiin. Buat penulis makasih banyak udah berbagi kisah heroisme anak betawi asli & ijin ser ke keluarga serta komunitas laennye.

    BalasHapus