Jaman Dukun Beranak Merajai Dunia Persalinan Tanpa Caesar

 

dukun beranak pandai tanpa caesar

Setelah berkumandangnya Proklamasi kemerdekaan pada Agustus tahun 1945, para pemuda pro perjuangan dari berbagai lapisan terus melakukan perlawanan terhadap Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan. Aksi bentrok senjata antara militer Belanda dan rakyat telah berkali-kali meletus. Suasana genting tak berhenti mewarnai hari-hari di Batavia. Siang hari di jalan-jalan banyak dijumpai tentara Belanda berkendaraan militer hilir mudik melakukan patroli. Malam harinya juga begitu, bahkan jumlah personelnya lebih banyak. Belanda tidak ingin kecolongan diserang mendadak. Semakin larut Batavia semakin lengang. Tapi masa bodoh dengan semuanya. Malam itu Abdul Gani harus keluar rumah. Tujuannya ke rumah Nyak Mamah, seorang Dukun Beranak yang tinggal di daerah Kramat Sentiong. Abdul Ghani sendiri tinggal di derah Kramat Lontar. Perjalanan menuju rumah Nyak Mamah ditempuh sekira 30 menit dengan berjalan kaki

Jarak ke rumah Nyak Mamah memang tidak seberapa jauh. Untuk rute terdekatnya Abdul Gani harus melalui area pepohonan lebat dan semak belukar yang lumayan gelap. Tapi bukan itu yang membuatnya gentar. Ia kuatir pada Nur, istrinya yang tengah hamil tua. Memang ada ibu kandung Abdul Gani yang ikut menjaga menantunya. Namun belum cukup membuatnya tenang. Sewaktu ia tinggal kondisi Nur kelihatan payah sekali. Wajahnya sudah pucat. Abdul Gani tak ingin terjadi sesuatu pada istri dan bayinya. Ini anak pertamanya. Sudah sejak Subuh tadi Nur merasakan mulas, tapi hingga tengah malam belum juga melahirkan. Ibu Kandung Abdul Gani sendiri biasanya mampu membantu kelahiran bayi. Beberapa bayi tetangga, termasuk dua bayi dari anak kakak perempuan Abdul Gani, sempat dibantu ibunya sewaktu melahirkan. Tapi untuk proses melahirkan Nur, ibunya nampak menyerah. Ia cuma membantu sebisanya. Sejatinya ia bukan Dukun Beranak.

Abdul Gani berjalan sendirian. Di langit, tidak terlihat lagi bintang-bintang. Awan mendung mendadak menghitam, membuat kondisi jalan semakin gulita. Sambil membawa lampu minyak langkah Abdul Gani sedikit terseret, karena jalan yang dilaluinya berubah becek akibat gerimis. Dengan pakaiannya yang mulai basah akhirnya sampai juga ia di rumah Nyak Mamah. Seorang ibu berusia sekitar 60 tahun. Baru saja Abdul Gani mengutarakan tujuannya pada Nyak Mamah, sekelebatan area sekitar rumah Nyak Mamah jadi terang benderang, disusul suara petir yang menggelegar hebat beberapa kali, lalu air hujan jatuh mengguyur teramat deras.

Tanpa ada basa basi. Tidak ada juga kata menunda. Nyawa dua manusia sedang dipertaruhkan. Dengan menenteng buntalan kain kecil berisi sejumlah keperluan persalinan, Nyak Mamah raih sebuah lampu minyak dari bufet. Nyak Mamah juga mengambil dua lembar daun pisang. Satu lembar ia berikan pada Abdul Gani. Lalu sambil menutupi kepalanya masing-masing dengan daun pisang keduanya berjalan ke luar rumah menerobos gulitanya malam dan lebatnya hujan.

Setibanya di rumah Abdul Gani, dengan bajunya yang masih basah kuyup Nyak Mamah segera menghampiri Nur, lalu meminta satu baskom air hangat beserta kain lapnya. "Bismillah", ucap Nyak Mamah. Dirabanya perut Nur dengan hanya dua kali usapan, lalu Nyak Mamah berkata perlahan pada Nur,  "Ini sungsang". Mendengar itu Nur hanya kernyitkan dahi tapi tak bereaksi. Ini kali pertama seumur hidupnya pengalaman Nur melahirkan. Ia sendiri bingung harus bersikap bagaimana. "Ya udeh, insya Allah selamet ni anak", lanjut Nyak Mamah santai. Lalu ia permisi untuk menyalin pakaiannya yang basah kuyup.  

Usai menyalin pakaian, Nyak Mamah kembali menghampiri Nur. Di situ sudah berkumpul Abdul Gani dan ibunya. Menyusul hadir beberapa wanita dari keluarga Abdul Gani yang baru tiba. Meski sudah berusaha tenang namun guratan risau masih menggaris di wajah mereka. "Iye ni anak sungsang. Tapi tenang, jangan kawatir, banyak kok nyang beginian, tapian lahir selamet. anaknye selamet, ibunye juga selamet." Nyak Mamah mengawali pembicaraan.

Omongan Nyak Mamah sepertinya mampu membuat Nur dan semua yang berada di situ terasa lebih tenang. "Lakinye mau liat bole, kagak juga gak pape", lanjut Nyak Mamah lagi sambil tersenyum.  Abdul Gani tidak keluar kamar, ia hanya sedikit menjauh dan duduk bersila di sudut kamar. Lalu Nyak Mamah kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia keluarkan perlengkapan dari buntelan yang dibawanya tadi. Setelah mengelap bagian perut Nur selanjutnya Nyak Mamah mengolesinya dengan minyak kelapa sambil tak berhenti melafalkan doa-doa. Meski mimik wajahnya terlihat serius namun Nyak Mamah sama sekali tidak tegang. Malah sesekali ia bergurau. "Ne ame lakinye diseruduk kali ne ye, bukan ditindiin. Jadi anaknye sungsang begito". kontan saja semua yang berada di sana jadi terbahak.

Lalu Nyak Mamah masih dengan santainya mengurut perut Nur dengan gerakan kedua tangan menekan dan memutari perut beberapa kali. "Alhamdulillah," kata Nyak Mamah. "Anaknya udah kagak sungsang lagi" lanjut Nyak Mamah dengan wajah berseri. Sontak semua yang berada di sana tersenyum lega. Sukar dipercaya, Nyak Mamah melakukan itu semua secara manual dan sama sekali tidak menggunakan peralatan medis dengan waktu yang begitu cepat."Nah sekarang tinggal dikeluarin anaknye," sambungnya.

Selanjutnya sambil bersikap khusyu Nyak Mamah lafalkan doa-doa. Ia meminta Nur untuk mengejan. Bersamaan dengan itu kedua tangannya mengurut perut Nur dengan gerakan tangan mengarah dari perut bagian atas ke perut bagian bawah. "Nah, Terus.., terus...," kata Nyak mamah menyemangati Nur. Luar biasa, kepala bayi sudah nampak, padahal Nyak Mamah baru dua kali mengarahkan urutannya ke bagian bawah perut. Pada urutan ketiga, seluruh tubuh bayi sudah keluar sempurna. " Alhamdulillah, Alhamdulillah...lancar beranakinnye," Nyak Mamah berucap sambil mengangkat tubuh bayi dan memperlihatkannya pada semua yang berada di situ. Serentak mereka semua bergembira seraya ucapkan kalimat tahmid, menyatakan puji syukur kepada Sang Pencipta.

Proses melahirkan yang ditangani Dukun Beranak di masa lalu menjadi kenangan persalinan terbaik yang pernah ada. Berlangsungnya secara sederhana. Sebuah proses yang tidak merumitkan para istri, serta tidak juga membelitkan para suami. Jaman di mana para ibu belum mengenal istilah bidan, apalagi operasi Caesar. Lalu transformasi Caesar yang menjadi tren masa kini. Ada banyak biaya yang harus digelontorkan. Melahirkan tapi tidak dengan nuansa kekeluargaan, tapi bersama rasa canggung dan keterasingan.

Sekarang Dukun beranak sudah tidak diperbolehkan lagi oleh pemerintah. Tugasnya kini juga sudah diambil alih oleh bidan. Aksi para Dukun beranak gadungan menjadi penyebabnya. Mereka seringkali menodai profesi Dukun beranak asli yang pada akhirnya menimbulkan korban jiwa akibat kesalahan penanganan proses kelahiran. Mereka melakukan serangkaian aksi penipuan dengan praktek ilegal.



You May Also Like

0 comments